Dalam tafsiran Wangsit Siliwangi bagian kelima ini,saya akan mengupas bait2 sbg berikut :
Jayana buta - buta heunteu pati lila; tapi, bongan kacida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep - ngarep caringin reuntas di alun-alu. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan.
Iraha mangsana ?
Engke mun geus tembong budak angon !
Ti dinya loba nu ribut; mimiti ti jero dapur, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara !
Nu barodo jaradi gelo marantuan nu garelut, di kokolotan ku budak buncireung !
Matakna garelut ?
Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang panglobana;nu boga hak marenta bagianana.
Ngan anu areling caricing. Ariyana mah ngalalajoan. Tapi kabarerang.
Nu garelut laju rareureuh. Laju kakara arengeuh kabeh ge taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabeh beak, beakna ku nu nyarekel gadean. (jayanya peminpin tak akan lama,tapi karenanya mereka terlalu menyengsarakan rakyat yg ingin segera dpt mukjizat para peminpin akan menjadi tumbal dari kelakuannya sendiri.
kapan waktunya??
nanti setelah datang anak gembala.dari situ muncul keributan.mulai dr dapur trus jd sekampung,sekampung jd satu negara!!
yg bodoh jd pada gila,membantu org yg berkelahi.di tengarai oleh orang buncit !!
sebabnya berkelahi?? memperebutkan warisan.yg serakah ingin menguasai,yg punya hak minta dpt bagian.
cuman yg sabar terdiam,mereka cuma menyaksikan tapi terbawa-bawa.
yg berkelahi lalu terdiam,lalu baru sadar semuanya tak ada yg dpt bagian.sebab warisan semuanya habis,habis oleh org yg punya taruhan)
tafsiran bebas ala Nang Bacok tentang bait2 di atas adalah : para peminpin di bumi nusantara ini tak bertahan lama,masing2 dr mereka meminpin dgn rentang waktu yg pendek kita bisa merasakan itu dari runtuhnya orde baru (orde baru dlm wangsit siliwangi di simbolkan dgn kalimat "karajaan di jero nagara") sampai pemerintah saat ini ,semuanya tidak ada yg memerintah lebih dari 10 thn.
kemudian yg di maksud "Buta-Buta" dlm wangsit itu bukan hanya kepala negara tetapi juga termasuk di dlmnya segenap jajaran pemerintah termasuk pemegang partai,DPR dan MPR.
oleh karena kerakusan mereka yg membabibuta hingga mereka akan menuai kesialan dr apa yg mereka perbuat (terjerat hukum/di adili) kejadian tertangkapnya para koruptor ini di gambarkan dlm wangsit dgn kalimat "buta bakal jaradi wadal,wadal pamolah sorangan".
kemudian di katakan dlm wangsit "kapan itu terjadi? nanti ketika datang anak gembala....dst" sampai pd bait "dari situ banyak yg ribut.mulai dr dapur sampai sekampung....dst"
kejadian ini persis terjadi sekitar setahun yg lalu yaitu ketikan pemilu dan pilpres.ketika itu banyak yg berkelahi memperebutkan pilihan masing2 dr mulai org2 serumah sampai satu negara sibuk membela keyakinannya.berkelahi memperebutkan sesuatu yg sia-sia di tetuai oleh "budak buncireng/org buncit" siapa dia........? (dia sekarang jd ketua organisasi basis dunia....wallahu a'alam yg jelas org itu d tengah2 kita saat itu) dan kemudian setelah pemilu dan pilpres terlaksana,org2 yg berkelahi itu semuanya mulai sadar bahwa mereka tak dapat apa2. yg beruntung hanya org2 partai yg dapat kursi di pemerintahan. itulah sekilas tafsiran wangsit siliwangi versi Nang Bacok melihat dari fakta dan data yg terjadi di bumi nusantara ini.
tokoh sentral dlm wangsit siliwangi ini,yaitu "budak janggotan dan budak buncireng" sudah saya perjelas ,tinggal satu lagi yaitu "budak angon" .sebetulnya kita tahu dia sudah muncul saat pemilu dan pilpres,tapi kita tidak mengetahuinya...(HªhªhªhªHªhªhªhª bodoh kau 😸
😸 ) dan insyyaalah akan saya terangkan pada bait selanjutnya dlm tafsir wangsit bagian 6.
nangbacok
Rabu, 21 Oktober 2015
Tafsir Wangsit Siliwangi bag.5
Selasa, 13 Oktober 2015
Tafsir Wangsit Siliwangi bag.4
sampurasun!! lama tak posting,sibuk di dunianyata mengumpulkan fakta dan data2 di tambah gangguan urusan duniawi 😁нɑнɑнɑнɑнɑ 😅😄нɑнɑнɑнɑ😸 .hingga penafsiran wangsit bagian ke 4 ini terbengkalai.walau pun kurang semangat untuk menulis dan menafsir karena kurang banyak menemukan fakta dan data tapi baiklah kita lanjutkan tafsiran wangsit siliwangi pada bait2 berikutnya yg berbunyi :
"Sing waspada ! Sabab engke arinyana, bakal nyaram Pajajaran di dongengkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana ariyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat.Buta-buta nu baruta; mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bule. Ariyana teu nyaraho, yen Jaman manusa dikawasaan ku sato!" (waspadalah !! karena mereka nanti akan melarang Pajajaran di ceritakan,sebab mereka takut ketahuan yg selama ini jadi garagara adalah mereka,yg menyebabkan semua jd kacau.mereka (para peminpin) yg meminpin negeri ini makin kedepan semakin jahat melebihi orang asing (penjajah) mereka tidak mengetahui sesungguhnya org2 yg mengisi zaman itu sudah seperti hewan).
tafsiran bebas ala "nang bacok " untuk bait ini adalah Pajajaran atau kabuyutan sunda akan dilarang diceritakan atau di gali lebih dalam sejarahnya oleh pemerintah yg sekarang berkuasa. apa faktanya ?? faktanya yaitu bendungan jati gede di realisasikan dimana seluruh area yg di genanginya adalah kabuyutan sunda/pajajaran .di situ terdapat ratusan situs dan cagarbuday akar dari sejarah awal mula nusantara bahkan konon dikatakan awal mula peradaban dunia.
memang pada awalnya bendungan jati gede di rencanakan sejak zaman penjajahan belanda,lalu di rencanakan lagi pada era presiden soekarno tapi baru di realisasikan pd tahun 2015 ini.karena pada wangsit siliwangi di katakan pemerintah yg sedang berkuasa jahatnya melebihi penjajah.namun pd dasarnya pemerintah/penguasa yg meminpin nusantara ini hanya di jadikan alat/budak bangsa asing karena yg selama ini jd pengacau negara kesatuan ini adalah org2 dari luar negeri,sebagai contoh nyata bahwa bendungan jati gede di sponsori oleh negara2 lain karena mereka tidak mau nusantara ini di pandang dan di perbincangkan oleh dunia sbg pusat peradaban bumi.akan tetapi pada akhirnya akan terungkap juga kebenaran akan hal itu seperti tersirat di bait2 awal wangsit siliwangi .kita lihat saja apa yg terjadi kedepannya tentang indonesia ini.smoga kita semua di beri keselamatan serta kesabaran dlm kondisi indonesia yg carut marut ini.amiinn !!
untuk sementara tafsir wangsit siliwangi bagian 4 ini saya akhiri.dan akan saya sambung tafsiran bait2 selanjutnya pada bagian kelima.walau pun tafsiran bebas ini hanya candaan dan terjemahan sepintas saya sambil mengisi kejenuhan dlm situasi nganggur tanfa kerjaan tapi mudah2an ada sedikit hikmah dan manfaat bagi para pembaca !!
Kamis, 08 Oktober 2015
Tafsir Wangsit Siliwangi bag.3
Dalam tafsiran bebas wangsit siliwangi bagian 3 ini,saya akan mengungkap ke bagian menuju akhir,karena jika anda coba membaca pada bagian tengahnya pasti anda sekalian bisa memahami isi dan maksudnya yaitu tentang nusantara dari zaman kesultanan banten,penjajahan belanda,perang dunia ke 2 ,penjajahan jepang sampai gambaran tentang siapa2 yg meminpin nusantara hingga saat ini.
maka dlm tafsiran wangsit bagian 3 ini saya akan menerjemahkan bait2 berikut yg bersinggungan dgn waktu yg tlah kita alami dlm waktu yg belum lama ini di nusantara.bait2nya berbunyi :
"Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung, bari nyoren kaneron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngelingan ka nu paroho. Tapi heunteu diwararo !
Da pinterna kabalinger, harayang meunang sorangan. Arinyana teu arengeuh, langit anggeus semu beureum, hasep ngebul tina pirunan.
Boro-boro dek ngawaro, malah budak nu janggotan, ku ariyana di tewak diasupkeun ka pengberokan. Laju ariyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun neangan musuh; padahal ariyana nyiar-nyiar pimusuheun"
(lalu datang org yg berjenggot,datangnya secambang hitam,sambil bawa tas slempang rusak,membimbing jalan pada yg sasar,mengingatkan pd yg lupa.akan tetapi tidak di gugu.karena pintarnya berlebihan,maunya menang sendiri.
mereka tidak sadar langit sudah memerah,asap ngepul dr perapian.
bukannya mau menuruti,malah org yg berjenggot oleh kalian di masukan ke dlm penjara.lalu kalian malah memberantakan dapur orang lain,beralasan mencari yg memusuhi/membuat keonaran;padahal kalian sendiri yg membuat permusuhan).
tafsiran yg saya tangkap dr bait2 itu menjelaskan bahwa kita tlah melewati kejadian ini beberapa tahun silam...yaitu ketika munculnya seserang yg berjenggot datangnya dr arah sebelah timur di luar jawabarat (saya mengartikan jamang hideung adlh sebutan untuk jombang).
dia berceramah,memberi petunjjuk jln kebenaran,mengingatkan org yg lupa dan sasar pd hakikat kebenaran.dia sebagai seorang pemuka agama.awal kemunculannya ditandai/sering di kaitkan dgn bom bali.karena dlm wangsit siliwangi bom bali di gambarkan dgn kata2 "langit sudah memerah,asap mengepul dr tungku/perapian".lanjut ke pokok...karena org2 di nusantara ini pinternya keblinger di tangkaplah org yg berjenggot tsb lalu di masukan ke dlm penjara. (walhasil....pasti kalian sudah menduga siapa org berjenggot itu...karena di thn 2015 ini dia masih di penjara).
lanjut ke bait "laju arinyana ngawut2 dapur batur,pajarkeun neangan musuh.dst" (lalu kalian merusak/menghancurkan dapur org,dgn alasan mencari pembuat keonaran)
pengertiannya,setelah pemerintah menangkap org berjenggot itu kemudian di masukan ke penjara tanfa alasan kesalahan yg kuat.lalu mereka membentuk tim gabungan(saya perjelas tim ini di sebut DENSUS 88) untuk mencari org yg berbuat keonaran (terorisme).mereka mendatangi seluruh wilayah yg diduga sarang teroris termasuk rumah siapa aja yg di duga tempat persembunyian teroris,mereka gempur dan menghancurleburkan tanpa ampun.(betul kan...sodara-sodara?? HªhªhªhªHªhªhªhª).
dan untuk tafsiran pada bait "pajarkeun neangan musuh,padahal arinyana nyiar2 pimusuheun"(beralasan mencari musuh (teroris),padahal dia sendiri yg membuat permusuhan) saya belum berani untuk menafsirkannya pemirsahhhh.....HªhªhªhªHªhªhªhª.takut keseleo lidah #ehh keseleo jari untuk mengetiknya H▲²H△²H▲²H△²H▲²H△²H▲².
untuk tafsiran wangsit bagian 3 ini,saya rasa cukup jelas dan saya harp para pembaca bisa memahami makna cerita di dlmnya.untuk tafsiran bait2 selanjutnya,saya akan membahasanya di lain hari pd tab/page berikutnya setelah saya mengumpulkan fakta2 yg kuat.smoga kita semua senantiasa di beri kesehatan selalu oleh yg maha kuasa hingga kita sampai pd tahun2 dimana indonesia makmur.amiin..!!
(bersambung ke tafsir wangsit siliwangi bag.4 ,tafsiran bebas ala " nang bacok " ) Wªkªkªkªkªkªkªkªk..ЩĸЩĸЩĸЩkЩĸЩĸЩĸЩĸ
Rabu, 07 Oktober 2015
Tafsir Wangsit Siliwangi bag.2
pada penafsiran Wangsit bagian ke dua ini saya akan menguraikan bait2 yg ditulis diawal tapi pengertiannya bersambung ke bait2 terakhir karena menggunakan kata "JAGA" yg dlm bahasa sunda berarti "nanti di masa yg akan datang".bait2 ini sulit di terjemahkan maksudnya karena dilukiskan dgn kias/simbolik seperti kata "Lebak Cawene"
Bait-baitnya sbg berikut "Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!! (nanti suatu saat kalau di tengah malam terdengar suara tabuh-tabuhan lesung,itu tandanya semua keturunan pajajaran akan dipanggil/di ceritakan kisahnya oleh seseorang yg punya hajatan besar di lebak cawene (lembah perawan).jangan terlambat sebab danau/bendungan akan jebol)
pengertian dlm tafsiran bebasa saya:
nanti suatu saat tokoh misterius di dlm wangsit ini yaitu "budak angon" akan mengadakan hajatan besar seperti menggelar seni-kebudayaan sunda dan menceritakan tentang nusantara dan pajajaran dgn sejelas2nya karena dia yg mengetahui sejarah bangsa ini.
kebudayaan sunda ini meliputi pencak silat,seni tari dan musik kuno pajajaran seperti di sebutkan di wangsit "sora tutunggulan". tutunggulan adalah seni musik klasik sunda yg di hasilkan dari tabuhan lesung yg kini masih di mainkan di cianjur pakidulan (jampang),sukabumi (jampang surade) dan suku banten kidul.
segala yg berkaitan dgn seni dan budaya pajajaran akan di pentaskan di "lebak cawene" di rumahnya "budak angon" dimana rumahnya/lebak cawene itu??
penjelasannya bisa kita lihat di bait2 akhir pd wangsit ini bunyinya "nu saungna di birit leuwi,nu pantona batu satangtungeun nu di hateupan ku handeuleum di tihangan ku hanjuang" (yg rumahnya di belakang danau,yg pintunya dari batu setinggi org berdiri,yg langit2nya/atas rumahnya dari pohon handeuleum yg tiangnya dari pohon hanjuang). penafsiran bebas saya tentang bait ini adalah sbg berikut: rumah si budak angon ini berada di balik/belakang sebuah bendungan/waduk yg pintu masuknya harus melewati bukit.di dalam hutan lebat dgn pohon2 yg besar dan di jaga dgn ketat.kenapa saya menefsirkan seperti ini,karena budak angon ini org besar dlm wangsit ini..sehingga penggambarannya/penafsirannya pun dgn sesuatu yg besar pula.kenapa di namai lebak cawene ? menurut penafsiran bebas saya "lebak cawene" dlm bahasa sunda berarti lebak perawan artinya lembah yg di maksud adalah lembah yg belum di jamah/jauh dari pemukiman penduduk hingga untuk kesana harus melewati bukit dan rerimbunan pohon.untuk sementara ini saya penunjuk tempat itu ada di sekitar lempengan jati luhur (wallahu a'lam).kembali lagi pada tafsiran di atas, kelak seluruh turunan pajajaran akan di kumpulkan di tempat yg tadi saya ceritakan yaitu di rumah budak angon,mereka di suruh cepat2 berkumpul karena akan terjadi malapetaka di tanah pajajaran berupa bendungan/waduk yg jebol.bendungan manakah yg akan jebol dan menjadi bencana besar di nusantara ini?karena bendungan/waduk di nusantara ini sangat banya,bisa itu bendungan cirata,jatiluhur,saguling atau bahkan bendungan yg sedang di bangun saat ini yaitu jati gde. nanti saya akan mengupastuntas tentang bendungan yg jebol ini pada tafsiran bait2 selanjutnya,karena bait yg menerangkan tentang bendungan itu sama urayannya dgn naskah "uga keuyeup bodas" (sumber) karangan sesepuh sumedang maka dari itu saya harus mengkaji naskahnya lebih mendalam sebelum menefsirkannya dan mengumpulkan fakta2 yg ada hingga tafsiran ini tak melenceng terlalu jauh apa yg di simbolkan di dlmnya. .sementara itu dlm naskah ini, siliwangi berpesan "harus cepat2 dan jangan menoleh kebelakang" maksud dari kata2 itu adalah keturunan pajajaran harus lekas ke rumah budak angon tapi jangan sekali2 melihat sejarah/perjalanan budak angon (entah dia pernah berlaku buruk di masalalu dan dari mana dia berasal,pajajaran atau majapahit. itu tidak perlu di persoal kan).itulah tafsiran bebas ala " nang bacok " pada bait2 di wangsit siliwangi ini.
lalu siapakah tokoh sentral dlm wangsit siliwangi yg di sebut budak angon ini.
nantikan pada tab/page selanjutnya......
pada judul "Tafsir Wangsit Siliwangi bag.3" terjemahan bebas ala " nang bacok " HªhªhªhªHªhªhªhª Wªkªkªkªkªkªkªkªk..ЩĸЩĸЩĸЩkЩĸЩĸЩĸЩĸ !!!
Senin, 05 Oktober 2015
Tafsir Wangsit Siliwangi bag.1
Dengan Bismillahirahmanirrahim saya mengawali jalan untuk mentafsirkan Ramalan atau Wangsit Siliwangi ini,semoga Allah memberi jalan hidayah pada saya dan tidak menyesatkan bagi orang yg membaca tulisan ini.
karena apa yg saya tulis ini telah saya cocokan dgn fakta2 yg ada.tulisan ini hanya penafsiran dari pandangan saya,karena setiap org yg menafsirkan sesuatu yg berkaitan dgn ramalan,entah itu Wangsit Siliwangi atau Ramalan JayaBaya semuanya menurut versi sendiri2 atau versi Bebas.
Dalam mentafsirkan Wangsit ini,kita harus melihat inti dari apa yg di ceritrakan dlm tulisan2 itu. apa intinya? intinya adalah....Wangsit ini menceritakan manusia atau orang2 terlihat menonjol/meminpin negri ini.ingat....!!! menceritakan "MANUSIA" bukan menceritakan Jin,Syetan,mahluk halus,dedemit atau dewa2 dan wangsit ini menceritakan hal yg nyata bukan gaib2 sehingga ketikan menafsikannya di campur adukan dgn hal2 mistis,jin dan dewa2,maka penafsirannya akan kacaubalau melebar kemana2 dan menjauh dari apa yg tertulis.seperti bait yg tertulis di wangsit itu sendiri "engke jaga bakal aya nu nyoba2 supaya nu leungit kapanggih deui.nya bisa,ngan mapayna kudu make amparan.tapi nu mapay na loba nu arieu-aing pangpinterna.mudu aredan heula" (smoga saya tak termasuk org yg edan itu...HªhªhªhªHªhªhªhª)
dari situlah dasar saya menafsir wangsit ini dgn melihat fakta/tanda2 nyata bukan yg gaib atau dewa2.
semuanya pasti tahu wangsit itu tlah meramalkan orang2 dan cerita2 yg akan terjadi di nusantara seperti penjajahan belanda,perang dunia,jaman jepang dan siap2 yg akan jadi peminpin di negri ini tlah tertulis dgn jelas.oleh karena itu tentang tafsir wangsit ini,saya hanya akan menerjemahkan/menafsirkan sebagian saja dgn kata lain hanya menafsirkan bait2 terakhir dan hal2 yg simbolik saja seperti "budak janggotan" dan "budak angon" yg dlm wangsit itu menjadi tokoh utama akan munculnya "ratu adil"/ pemerintahan yg jujur dan adil seperti pemerintahan di zaman Prabu Siliwangi.
siapakah "budak janggotan" menurut persi saya?? (wew....kepoo) dan apa terjemahan bait2 terakhir dlm wangsit siliwangi?? (weww lagi...HªhªhªhªHªhªhªhª) saya akan menceritakannya pada tab/page2 berikutnya. tunggu kisah selanjut_nya dlm "Tafsir Wangsit Siliwangi" bag.2 BERSAMBUNG!!
(sinetron kaleee maak....bersambung!) HªhªhªhªHªhªhªhª
Wangsit Siliwangi
Lalakon urang ngan nepi ka poe ieu. Najan dia ka ngaing pada satia, tapi ngaing heunteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar.
Dia mudu marilih, pikeun hirup kahareupna, supaya engke jagana jembar senang mugih mukti, bisa ngadegkeun deui Padjadjaran.
Lain Padjadjaran nu kiwari, tapi Padjadjaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman;
Pilih: ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, heunteu pantes jadi raja amun somah sakabehna lapar bae jeung balangsak.
Darengekeun:
Nu dek tetep ngilu jeung ngaing, geura misah ka beulah kidul;
Anu hayang balik deui ka dayeuh nu ditinggalkeun, geura misah ka beulah kaler;
Anu dek kumawula ka nu keur jaya, geura misah ka beulah wetan;
Anu moal milih ka saha-saha, geura misah ka beulah kulon;
Darengekeun:
Dia nu di beulah wetan, masing nyararaho : Kajayaan milu jeung dia; nya turunan dia anu engke bakal marentah ka dulur jeung ka batur. Tapi masing nyaraho, arinyana bakal kamalinaan. Engke bakal aya balesna.
Jig geura narindak !
Dia nu di beulah kulon; papay ku dia lacak Ki Santang ! Sabab engkena turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan, ka sakabeh nu rancage di hatena.
Engke jaga mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadenge sora tutunggulan, tah eta tandana : saturunan dia disambat ku nu dek kawin di Lebak Cawene. Ulah sina talangke. Sabab talaga bakal bedah; Jig, geura narindak ! Tapi ulah ngalieuk ka tukang !
Dia nu marisah ka beulah kaler; darengekeun: !
Dayeuh ku dia moal kasampak, ngan ukur tegal baladaheun. Turunan dia, lolobana bakal jadi somah. Mun aya nu jadi pangkat, bakal luhur di pangkatna, tapi moal boga kakawasaan. Ariyana engke jaga, bakal kaseundeuhan batur. Loba batur tinu anggang, tapi batur nu sarusah jeung batur nu nyusahkeun. Sing waspada !
Sakabeh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu nu perlu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan anu hade laku lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu, mun ngaing nyarita moal kadenge.
Memang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu geus rancage hatena, kanu weruh disemu anu saestu, anu ngarti kana wangi nu sajati jeung nu surti lanti pikirna, nu hade laku lampahna.
Mun ngaing datang : teu ngarupa teu nyawara, tapi mere ciri ku wawangi. Ti mimiti poe ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit ngarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti nu kari, bakal rea nu marungkir !
Tapi, engke jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya nu laleungit kapanggih deui, nya bisa, ngan mapayna kudu make amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu aing pangpinterna. Mudu aredan heula.
Engke bakal rea nu kapanggih, sabagian-sabagian. Sabab kaburu dilarang ku nu disebut Raja Panyelang. Aya nu wani ngorehan terus, teu ngahiding ka panglarang ; ngorehan bari ngalawan, ngalawan bari seuri, Nya eta budak angon : imahna di birit leuwi, pantona batu satangtung, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang.
Ari ngangonna ?
Lain kebo lain embe, lain meong lain banteng, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalakonkeun. Engke mun wayah jeung mangsana, baris loba anu kabuka jeung rareang marenta dilalakonkeun. Tapi mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang : undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktu nu nyukma, ngusumah eujeung nitis, laju nitis dipinda sukma.
Darengekeun !
Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi ka mangsa : “ tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol.”
Tah didinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barule, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk d alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu.
Kebo bule nyekel bubuntut, turunan urang narik wuluku, ngan narikna heunteu karasa sabab murah jaman jeung seubeuh hakan. Ti dinya, wuluku ditumpakan kunyuk; laju turunan urang aya nu lilir. Tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi.
Ti nu laleungit, tambah loba nu kapanggih, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili. Nya kabawa nu lain mudu diala. !
Turunan urang loba anu heunteu engeuh, yen jaman ganti lalakon !
Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup di buburak ku nu ngalanteur pamuka jalan ; tapi jalan nu kasingsal.
Nu tutunjuk nyumput jauh ; alun - alu jadi suwung, kebo bule kalalabur : laju sampalan nu diranjah monyet !
Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri heunteu anggeus, sabab kaburu : warung beak ku monyet, leuit beak ku monyet, kebon beak ku monyet, sawah beak ku monyet, huma di acak-acak ku monyet, cawene rareuneuh ku monyet. Sagala-gala diranjah ku monyet. Turunan urang sieun ku nu niru - niru monyet.
“Panarat” dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Wulukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan.
Ti dinya, turunan urang nagrep-ngarep pelak jagong, sabari nyanyahoanan maresek caturangga. Heunteu arengeuh, yen jaman geus ganti deui lalakon.
Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kaler ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Genjlong saamparan jagat !
Ari di urang ?
Rame ku nu mangpring. Prang - pring sabulu - bulu gading. Monyet ngumpul ting rumpuyuk. Laju ngamuk turunan urang ; ngamukna teu jeung aturan.
Loba nu paraeh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur ; puguh batur, disebut musuh.
Ngadak-ngadak loba nu pangkat nu marentah cara nu edan. Nu bingung tambah baringung ; barudak satepak jaradi Bapa. Nu ngaramuk tambah rosa ; ngamukna teu ngilik bulu. Nu barodas di buburak, nu harideung disieuh-sieuh. Mani saheng buana urang, sabab nu ngaramuk, heunteu beda tina tawon, dipalengpeng keuna sayangna.
Sanusa dijieun jagal. Tapi, kaburu aya nu nyapih ; nu nyapihna urang sabrang.
Laju ngajeug deui raja, asalna jalma biasa. Tapi memang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulau dewata. Da puguh titisan raja ; raja anyar hese apes ku rogahala !
Ti harita, ganti deui jaman. Ganti jaman ganti lalakon ;
Iraha ?
Heunteu lila, anggeus tembong bulan ti beurang, disusul kaliwatan ku bentang caang ngagenclang.
Di urut nagara urang, ngadeg deui karajaan. Karajaan di jeroeun karajaan jeung rajana lain teureuh Pajajaran.
Laju aya deui raja, tapi raja, raja buta nu ngadegkeun lawag teu meunang dibuka, nangtungkeun panto teu beunang ditutup, nyieun paneuran di tengah jalan. Miara heulang dina caringin.
Da raja buta ! Lain buta duruwiksa, tapi buta heunteu neuleu, buaya eujeung ajag, ucing garong eujeung monyet ngorowotan somah nu susah. Sakalina aya nu wani ngageuing : nu diporog mah lain satona, tapi jelema anu ngelingan.
Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala.
Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan ; da nu ngawulukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan : tarate hepe sawareh, kembang kapas hapa buahna ; buah pare loba nu teu asup kana aseupan …..
Da bonganna, nu ngebonna tukang barohong ; nu tanina ngan wungkul jangji ; nu palinteur loba teuing, ngan pinterna kabalinger.
Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung, bari nyoren kaneron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngelingan ka nu paroho. Tapi heunteu diwararo !
Da pinterna kabalinger, harayang meunang sorangan. Arinyana teu arengeuh, lagit anggeus semu beureum, hasep ngebul tina pirunan.
Boro-boro dek ngawaro, malah budak nu janggotan, ku ariyana di tewak diasupkeun ka pengberokan. Laju ariyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun neangan musuh; padahal ariyana nyiar-nyiar pimusuheun. Sing waspada ! Sabab engke ariyana, bakal nyaram Pajajaran di dongengkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana ariyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat.
Buta-buta nu baruta; mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bule. Ariyana teu nyaraho, yen Jaman manusa dikawasaan ku sato!
Jayana buta - buta heunteu pati lila; tapi, bongan kacida teuing nyangsara ka somah, loba somah anu pada ngarep - ngarep caringin reuntas di alun-alu. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan.
Iraha mangsana ?
Engke mun geus tembong budak angon !
Ti dinya loba nu ribut; mimiti ti jero dapur, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara !
Nu barodo jaradi gelo marantuan nu garelut, di kokolotan ku budak buncireung !
Matakna garelut ?
Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang panglobana; nu teu hawek hayang loba; nu boga hak marenta bagianana.
Ngan anu areling caricing. Ariyana mah ngalalajoan. Tapi kaborerang.
Nu garelut laju rareureuh. Laju kakara arengeuh kabeh ge taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabeh beak, beakna ku nu nyarekel gadean.
Buta - buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju nareangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateupan ku handeuleum di tihangan ku hanjuang.
Nareangan budak tumbal, Tapi,
Sejana dek marenta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, enggeus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawene !!
Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul.
Darengekeun !!
Jaman bakal ganti deui. Tapi engke, amun gunung Gede anggeus bitu di susul ku tujuh gunung. Genjlong deui sajajagat. Urang Sunda disasambat, urang Sunda ngahampura. Hade deui sakabehanana. Sanagara sahiji deui. Mangsa jaya, jaya deui sabab ngadeg Ratu adil, Ratu Adil anu sajati.
Tapi Ratu saha ? Ti mana asalna eta Ratu ?
Engke oge dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia eta budak angon ! Jig, geura narindak !
Tapi, ulah ngalieuk katukang !